Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik. Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.
Tampilkan postingan dengan label Pindah Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pindah Agama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Mei 2006

Dosakah seorang Kejawen pindah ke Agama lain?

Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk menghakimi seorang Kejawen, yang pindah ke agama lain. Karena Tuhan Yang Maha Esa memberikan kita hati dan pikiran, yang mana itu semua sudah diserahkannya sejak kita lahir di muka bumi.

Dengan kepindahannya dari Agama Jawi ke agama lain, ini berarti ia memilih pola hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana dirinya menempatkan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Apakah dirinya ingin memiliki hubungan yang langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa (tetap pada keyakinan Agama Jawi), atau dengan Perantara (pindah ke agama Rasul).

Agama Rasul menempatkan Rasul sebagai Perantara komunikasi, antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, dalam sembahyang atau do’a mereka, mereka tidak lupa menyebutkan atau bahkan mendo’akan para Perantara mereka terlebih dahulu, sebelum memberikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, hal tersebut sebagai wujud eksistensi mereka, bahwa mereka ada di jalur Perantara yang mana.

Minggu, 27 Februari 2005

Berdosakah Kembali ke Agami Jawi?

Berdosa karena pindah agama / kembali ke Agami Jawi, atau apapun sebutannya, banyak agama mengutuk umatnya yang keluar dari agamanya. Bagi seorang Kejawen Sejati yang berasal dari ajaran turun-temurun keluarganya, bersyukurlah dirinya, karena ia tidak perlu mengalami pindah-pindah agama.
Tetapi, bagi seorang yang baru sadar akan keluhuran Agami Jawi setelah dirinya dewasa, dan ingin kembali lagi sebagai seorang Kejawen Sejati. Percayalah, Ghusti / Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah menghukumnya. Karena, ketika dirinya menganut agama rosul yang menempatkan dirinya tidak lagi sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, dimana hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa harus melalui Perantara untuk menyampaikan do’a atau pujian kepadaNya.
Tidak sedikitpun Ghusti / Tuhan Yang Maha Esa menghukumnya, apalagi ketika ia sadar dan ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya, dan kembali ke keyakinan Agami Jawi yang hakiki tersebut. Di lain pihak, mengakui dan meyakini bahwa kehidupan dirinya adalah pinjaman dari Gusti, yang pada awalnya dititipakan kepada orang tua mereka yang melahirkannya.